ShortStory 4



Kancil yang sedang dalam masa merah - merahnya sedang terganggu hatinya oleh seekor Kancil betina yang sering melihatnya ketika sedang mencuri timun pak Jono di pinggir hutan. Kurus tinggi dan periang terkadang memakai mahkota bunga yang dia curi di kebun Pak Sobari. Biasanya si Kancil betina lewat bersama kawan – kawannya sedangkan Kancil bersama burung Cendrawasih. Teman sejatinya saat mencuri timun, yang mengawasi dari atas jika pak Jono atau istrinya datang.

Sudah sejak satu setengah minggu ini mereka sering bertemu. Kadang di kebun pak Jono kadang di kebun Pak Sobari atau di pohon palem biasa Kancil memakan timun pak Jono. Pertama kali mereka berdua bicara,

“Timun pak Jono seger – seger lho,” Kancil mundur beberapa langkah.

“Hihihi. Lucu kamu cil,” ujar Kancil betina.

“Lucu belas agustus?” Kancil sambil menahan tawa.

Ha Apa?”

“Lucu belas agustus” kata Kancil sekali lagi.

“Oohh, Tuju belas agustus itu,” jawab Kancil betina dengan sedikit tertawa.

Suasana tiba – tiba menjadi datar, Aduh gimana cil, gimana cil, ngomong apa lagi cil??? Kancil berdebat dengan dirinya sendiri.

“iya, hehe. Lho kok enggak slama... enggak, enggak sama temen - temenmu?” mendadak Kancil gagap.

“Mereka lagi enggak ikut. Kamu kok kesini sendirian terus Kancil?”

“Aku biasanya berdua sama temenku, burung.”

“burung?”

“Burung Cendrawasih. Biasanya dia sama aku ambil timun bareng. Aku yang ngambil timun trus dia yang ngawasin dari atas.” Kancil mencoba mengatur nafas.

“ya ampuuuunnn, jadi kamu sama temenmu bareng kerjasama buat ambil timun?”

“iya. Tapi sekarang dia nggak ikut,”

“Ooo....”

“Aku pulang dulu, udah malem aja nggak kerasa, Bye,” kata Kancil setelah merasa lebih lega.

“iya Kancil, hati – hati di jalan kacil, becareful Kancil, becareful on the way Kancil”

“iya.. iya..” Kancil fokus ke depan tidak melihat ke arah kancil betina. Di depannya turunan bukit seperti tangga. Dia menuruni bukit dengan melompat – lompat seperti anak kecil yang riang gembira.

Kancil kembali ke rumah dengan cepat karena ada sesuatu yang ingin dia cepat kerjakan di rumah. Hari itu Kancil sengaja tidak tidur sampai malam. Dia pergi mencuri bunga - bunga di kebun Pak Sobari. Dia juga pergi ke kebun pisang untuk menganbil segepok pisang yang sudah matang. Pohon pisang Pak Sobari sangat terkenal karena bahan dasar uang Dollar diambil dari pohon pisang Pak Sobari. Kancil pulang ke rumah cepat – cepat sambil membawa pisang yang dikalungkan di lehernya lalu bunganya dia gigit di bagian dahannya. Malam itu Kancil mengerjakan sesuatu sampai menjelang subuh. Tidak terasa sudah menjelang subuh tetapi Kancil masih merasa apa yang dia kerjakan belum selesai. Setiap kali dia sudah selesai, tiba - tiba seperti ada yang salah lalu dia bongkar dan membuat yang baru dan begitu – begitu seterusnya. Paginya dia berencana untuk pergi ke tempat biasa Kancil betina berjalan – jalan. Dengan membawa bunga dan pisang yang sudah dia kerjakan semalaman suntuk. Dia akan berangkat ke sana sebelum siang supaya ketika sampai di sana dia hanya tinggal menunggu Kancil betina. Kancil betina biasanya akan lewat antara matahari tepat di atas ubun – ubun sampai Pak Sobari keluar rumah untuk melihat lihat kebunnya. Itu tanda kalau Kancil harus segera pergi.

Kancil tidak tidur semalaman dan tidak akan tidur sampai dia selesai melakukan rencananya karena jika tidur pasti akan memakan waktu sangat lama dan akan melewatkan waktu bertemu dengan Kancil betina. Kancil pergi ke rumah kawannya terlebih dahulu supaya tidak ketiduran. Dia pergi ke rumah Cendrawasih di pinggir sungai. Itu adalah rumah baru Cendrawasih setelah rumah lamanya yang ada di pohon di ujung hutan tersambar petir. Risiko jika rumah tidak dipasang penangkal petir. Sudah sangat lama Kancil tidak mengunjungi rumah Cendrawasih. Sesampainya di sana dia melihat sungai mengalir tidak deras dan bening. Dia mendekati sungai, melihat sungai yang mengalir dengan tenang lalu membasuh mukanya untuk menahan rasa kantuk yang mulai terasa.

Kancil masuk ke rumah Cendrawasih. Tampak dia tiduran di atas sofa dengan cangkir berisi ampas kopi lembap, mengenakan kacamata bundar sedang mengoreksi tulisan. Sayap kirinya memegang sebuah daun dan sayap kanannya sedang mencelupkan ujung pena kedalam tinta.


“Serius banget cen,” ujar Kancil sambil melihat lihat isi rumah Cendrawasih.

“Kalau kamu jadi buah, kamu kepingin jadi apa cil?” tiba tiba Cendrawasih bertanya.

“Kamu lagi ngapain sih cen?” Kancil merasa bingung karena Kancil belum pernah melihat Cendrawasih seperti itu.

“Kalau kamu jadi buah kamu kepingin menjadi?” tanya Cendrawasih sambil menengok ke arah Kancil.

“Pisang!” Kancil sedikit sebal.

“Lho bukannya timun?”

“Ya memang setiap hari aku makan timun tapi pisang enak banget cen,” jawab Kancil.

Kancil berjalan jalan di dalam rumah Cendrawasih dan  berusaha tidak duduk supaya rasa kantuknya tidak semakin menjadi jadi. Menghabiskan waktu sampai matahari tepat ada di atas masih sedikit lama dan jangan sampai hari ini rencananya tidak berjalan hanya karena keitduran. Semua persiapan sudah selesai, hanya tinggal menunggu waktu lalu berangkat.

“Oww.., dan pisang cocok kalau dimakan sambil minum kopi di pinggir sungai cil,”

“Kopi!? Cocok banget cen! Setuju! Apalagi kalau temen datang ke rumah, cocok bangett, hehe. Aku tunggu di pinggir sungai cen, hehe.” Kancil merasa takdir mendukung rencannya hari ini.

Di sungai, Cendrawasih bercerita kepada Kancil kalau tadi dia sedang membuat sebuah puisi. 2 minggu yang lalu dia bertemu dengan seekor kucing anggora. Dan sejak pertemuan itu Cendrawasih tidak pernah tidak pergi bersama dia setiap sore. Di hari rabu sore tepat 2 minggu sejak mereka bertemu, Cendrawasih merasa sangat ingin membuat sebuah puisi. Lalu ia membuatnya sejak tadi malam sampai Kancil datang ke rumahnya.

“Lalu kamu mau apakan puisimu cen?” tanya Kancil sambil membawa cangkir..

“Cen..,”

Kancil melihat ke arah Cendrawasih yang ternyata sudah terpejam tertidur pulas. Kancil melihat daun di apit di sayap kiri Cendrawasih yang mana adalah daun bertuliskan puisi Cendrawasih. Kancil perlahan mengambilnya lalu melihatnya.






Bunga mawar di taman surga
Kucium, seketika murka melayu
Kucium sekali lagi sebelum tidur

Tak perlu mimpi yang semourna
Cukup kesederhanaan rasa suka
Lalu kita berdansa sampai larut malam

Bunga – bunga berseru
Awan – awan saling merayu
Kunang – kunang turut tersipu malu
Aku tenggelam oleh hari – harian
Bulan – bulanan
Tahun – tahunan penuh buaian

Ku tersadar bahwa waktu adalah buang – buang bahagia
Dan waktu untuk buang – buang bahagia adalah .. .. .. ..
Kamu.

Cause i’ve been falling in love with you
Since the firs time i saw you

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ShortStory

yeah..

ShortStory 2